Tahukah kamu, meski batas konsumsi gula yang dianjurkan Kementerian Kesehatan hanyalah 50 gram per hari (4 sendok makan), kenyataannya rata-rata orang Indonesia justru mengonsumsi gula sampai 160 gram sehari? Itu artinya, banyak orang tanpa sadar sudah “melewati” tiga kali lipat dari batas normal, bahkan enam kali lipat dari anjuran WHO.

Kenapa bisa begitu? Salah satu penyebab utamanya adalah semakin tingginya konsumsi minuman manis dalam kemasan (MBDK) seperti teh botol, soda, atau minuman berperisa lainnya. Dalam 20 tahun, konsumsi MBDK di Indonesia naik drastis hingga 15 kali lipat—dari 51 juta liter tahun 1996 menjadi 780 juta liter di tahun 2014. Pada tahun 2020, Indonesia Gula yang berlebihan ini bukan cuma bikin gigi berlubang, tapi juga berkontribusi langsung pada lonjakan kasus diabetes. Berdasarkan data tahun 2022, 11,7% penduduk Indonesia mengidap diabetes. Dari ribuan penderita diabetes yang diteliti, hampir 33% juga mengalami obesitas. Kondisi ini jelas menunjukkan bahwa gula berlebih jadi pemicu utama penyakit serius yang menyerang usia muda maupun lanjut.
Yang lebih mengkhawatirkan, kasus diabetes di kalangan anak-anak juga ikut melonjak tajam. Data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) hingga Januari 2023 menunjukkan peningkatan kasus diabetes pada anak sebanyak 70 kali lipat, dan hampir 60% penderitanya adalah anak perempuan. Tren ini memperingatkan kita bahwa kebiasaan konsumsi gula berlebih sudah sangat mengkhawatirkan generasi muda. Bahkan Indonesia jadi negara ketiga terbesar di Asia Tenggara dalam konsumsi minuman manis ini!
Karena itu, melalui Sweet Control, mari mulai langkah kecil: kurangi gula, pilih minuman sehat, dan mulai baca label nutrisi sebelum membeli produk makanan.